Menu Home

MENU

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic
www.amienlink3.blogspot.com

Sunday, March 7, 2010

Terorisme Aceh Lebih Berbahaya Dibanding Noordin M Top


Terorisme Aceh Lebih Berbahaya Dibanding Noordin M Top

Jaringan terorisme di Aceh sangat berbahaya. Terorisme di kota Serambi Makkah ini lebih berbahaya dibandingkan jaringan terorisme yang dipimpin gembong teroris Noordin M Top. Jaringan Aceh lebih terstruktur, global dan langsung berhubungan dengan Alqaeda pusat.


"Ini lebih besar dari Noordin Top. Noordin bergerak solo, dengan formasi 124. Kalau yang di Aceh ini persis formasi Mindano, lebih global," kata pengamat terorisme Mardigu dalam perbincangan dengan detikcom via telepon, Minggu (7/3/2010).

Menurut Mardigu, Alqaeda memanfaatkan Mindano untuk latihan perang, tidak hanya untuk memerdekakan Filipina Selatan, tapi juga lebih besar lagi untuk menyiapkan kader terorisme. Nah dalam kasus Aceh, Alqaeda juga memakai Aceh untuk pusat latihan teroris setelah sebelumnya gagal di Ambon dan Poso.


"Aceh itu teritori berikutnya setelah Ambon dan Poso. Jadi terorisme ini benar-benar dari pusatnya yang holistik. Jadi sangat berbahaya," tegas Mardigu.

Seperti apa model terorisme di Aceh, Mardigu belum bisa menjelaskannya. Namun menurutnya, jaringan Aceh ini akan berbeda dengan gaya Noordin yang melakukan pengeboman. Aceh lebih dijadikan pusat pelatihan terorisme.

"Mungkin Aceh akan menjadi kayak Magelang, jadi seperti Akabrinya teroris," jelas Mardigu.

Kepala Kepolisian RI, Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri membenarkan telah menangkap jaringan teroris di Aceh. Namun, dia enggan menjelaskan secara rinci tentang jaringan teroris tersebut.

"Untuk masalah Aceh belum bisa rinci, karena berkaitan dengan masalah yang perlu kami kembangkan," kata Bambang Hendarso Danuri usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III bidang Hukum DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 23 Februari 2010.

Polri pun membenarkan kabar tertangkapnya jaringan teroris sebagaimana telah diberitakan di berbagai media. Dia mengatakan dalam penggerebekan itu telah ditangkap tiga orang.

"Untuk apa peristiwanya dan kaitannya bagaimana itu yang belum bisa saya jelaskan. Nanti pada saatnya setelah kita mengungkap lebih dalam kita akan menjelaskan, akan disampaikan Kadiv Humas," kata dia.

Penangkapan itu sendiri berlangsung sekitar 14 jam. Polisi mulai bergerak Senin siang usai salat dzuhur hingga pukul 04.00 WIB, Selasa 23 Februari 2010.

Sempat terjadi baku tembak saat itu, namun hanya tiga orang yang berhasil ditangkap. Polisi kini masih melakukan penyisiran di kawasan tersebut.

Dalam penggrebekan ini, seorang warga tewas bernama Kamarudin (37) dan melukai seorang anak, Suheri (14).

Polda Nangroe Aceh Darussalam (NAD) juga meyakini tiga orang yang di tangkap Polres Aceh Besar, adalah kelompok jaringan teroris, yang diduga kuat terkait kelompok Imam Samudera dan Noordin M Top.

Polisi juga menemukan sejumlah barang bukti seperti buku berjudul 'Mimpi Suci Dibalik Jeruji Besi' karangan Al Gufron dan pakaian loreng motif Malaysia, dilokasi penangkapan di Kecamatan Kuta Malaka, daerah kawasan Janto arah Gempang, seperti ditemukannya

"Bukti yang kami peroleh yakni buku Al Gufron berjudul mimpi suci dibalik jeruji besi dan pakain loreng Malaysia," kata Kapolda NAD Irjen Pol. Aditya Warman kepada wartawan di Aceh, Selasa 23 Februari 2010.

Sumber : www.vivanews.com

No comments:

Post a Comment

Profile Pict :